Sayembara Sustainable Urban Development 2009

61-AGW-02Ruang Publik adalah ruang terbuka yang dapat diakses atau dimanfaatkan oleh warga kota secara cuma-cuma sebagai bentuk pelayanan publik dari pemerintah kota demi keberlangsungan berbagai aktivitas sosial seluruh warganya. 61-AGW-03 61-AGW-04Ruang publik sebagai ruang yang penting bagi kehidupan kota yang berkelanjutan (Sustainable Urban Development) secara signifikan keberadaannya semakin berkurang. Sementara di sisi lain ada banyak lahan terlantar yang bertebaran di penjuru kota tanpa ada kegiatan yang berarti di atasnya selain sebagai tempat tumbuhnya rumput liar dan tumpukan sampah.

Desain minimalis kantor Bank

ImageBank adalah sebuah tempat yang melayani masyarakat dalam penyimpanan uang, barang berharga, maupun tempat dimana masyarakat dapat memperoleh pinjaman dalam pembiayaan kredit perumahan, industri, maupun usaha kecil menengah. melihat latar belakang usaha-usaha, industri yang sedang berkembang, maka pada saat ini banyak bank semakin berlomba untuk melayani masyarakat dengan baik, dari sisi pelayanan yang mudah, cepat dan pelayanan yang lebih dekat lagi dengan masyarakat, maka tidak heran jika pihak bank semakin banyak membangun bank-bank cabang dan merencanakan desain kantornya agar menjadi suatu desain kantor bank yang menarik untuk dikunjungi, mengikuti konsep desain facade bangunan pada jamannya atau biasa kita sebut sebagai tren bangunan saat ini yaitu modernisasi.

Pengolahan desain bank sangatlah bergantung pada struktur organisasi yang sudah dibuat oleh bank tersebut, dimana area atau denah rencana pada bank terbentuk dari pengelompokan struktur organisasi tersebut. Selain itu kita juga harus mempunyai konsep yang membedakan area mana yang menjadi area tunai, dan area yang non tunai, karna ini akan mempengaruhi dari sisi kinerja dan safety pada bank tersebut.

KONSEPMelalui struktur organisasi yang sudah ada sebenarnya kita sudah mendapatkan gambaran untuk melakukan ploting ruang, hanya saja kita juga harus menggali sejauh mungkin TOR (term of reference) mengenai apa style yang ingin diterapkan pada bank tersebut, Skala atau parameter desain yang diharapkan, lokasi dari pembangunan bank yang nantinya akan berkaitan dengan tata ruang, bentuk dan ukuran ploting ruang.

image 004Konsep bank yang minimalis seperti ini saat ini sedang banyak dilakukan oleh bank di Indonesia, alasan dari bank yang memilih desain yang minimalis seperti ini adalah ingin merubah tampilan atau image sebuah bank yang maju pesat dalam melayani masyarakat. Desain minimalis sebenarnya lebih cocok diterapkan pada residential atau lebih ke bangunan perumahan. Dan ini adalah pekerjaan Arsitek sebagai perencana bangunan bagaimana mengolah sebuah bangunan yang minimalis tetapi masih memiliki image sebuah kantor bank.

image 003

Perencanaan Bangunan

Terkadang perencanaan pada sebuah bangunan akan banyak memakan waktu, ini semua dikarenakan banyaknya perubahan atau revisi dari kemauan owner, dimana kita harus terus menerus mencari tau keinginan owner, apa saran dari kita, dan juga referensi yang kita ajukan sebagai pertimbangan material apa yang dapat digunakan.

Perubahan dari desain tersebut pasti juga akan berpengaruh pada biaya, waktu yang telah ditentukan (scheduling) dan banyak lagi pengaruh pada apa yang sudah kita rencanakan.

Tetapi sadarkah anda bahwa perubahan yang dilakukan tersebut memang harus anda lakukan, karna proses perencanaan akan berjalan dengan baik apabila komunikasi anda dengan owner juga berjalan dengan baik, dan hasil dari semuanya adalah hasil karya yang memuaskan owner, bahkan kita sebagai perencana.

Slamat berkarya.

 

 

 

Arsitektur Tradisional Bali

Arsitektur tradisional di Bali berasal dari dua sumber. Salah satunya adalah tradisi Hindu yang besar dibawa ke Bali dari India melalui Jawa. Yang kedua adalah arsitektur asli pra-dating epik Hindu dan dalam banyak hal mengingatkan bangunan Polynesia. Ada ilmu Bali dikembangkan geomansi ditulis dalam naskah kuno daun lontar. Ini dikenal sebagai Kosala Kosali-. Ilmu bangunan dianggap pengetahuan suci dan arsitek Bali tradisional yang mungkin juga menjadi petani padi yang dikenal dengan judul terkemuka undagi. Menggunakan bahan alami seperti atap rumbia, tiang bambu, anyaman bambu, kayu kelapa, lumpur dan batu mereka laporan organik selaras dengan lingkungan. Banyak dari mereka adalah sementara seperti rumah-rumah korban disiapkan sebelum panen di sawah. Lainnya menggunakan pohon yang benar-benar akan terus berkembang sebagai bambu membusuk dan kembali ke bumi ibu.

Arsitektur tradisional Bali tidak terlepas dari keberadaan asta kosala-kosali yang memuat tentang aturan-aturan pembuatan rumah atau puri dan aturan tempat pembuatan ibadah atau pura. Dalam asta kosala-kosali disebutkan bahwa aturan-aturan pembuatan sebuah rumah harus mengikuti aturan-aturan anatomi tubuh sang empunya pemilik rumah dengan dibantu sang undagi sebagai pedande atau orang suci yang memunyai kewenangan membantu membangun rumah atau pura. 

Dalam asta kosala-kosali terdapat ukuran-ukuran atau dimensi yang didasarkan pada ukuran atau dimensi yang didasarkan pada ukuran jari-jari si pemilik rumah yang akan menempati rumah tersebut. Seperti Musti, yaitu ukuran atau dimensi untuk ukuran tangan mengepal dengan ibu jari yang menghadap ke atas. Hasta untuk ukuran sejengkal jarak tangan manusia dewata dari pergelangan tengah tangan sampai ujung jari tengah yang terbuka. Depa untuk ukuran yang dipakai antara dua bentang tangan yang dilentangkan dari kiri ke kanan.

Masyarakat bali dan alam semesta adalah suatu hal yang tidak dapat dipisahkan, begitu pula dengan arsitekturnya. Manusia Bali tradisional tinggal di sebuah perkampungan yang ditata dengan pola-pola tertentu mengikuti kaidah-kaidah tertentu yang mengacu pada alam semesta, yaitu kaidah arah angin kaja-kelod, kauh-kangin, dan kaidah Sumbu Utama Gunung Agung yang diyakini sebagai tempat bersemayamnya para dewa dan leluhur suci mereka dan sangat percaya bahwa dirinya hidup di dunia membawa misi hidup untuk membuat kebaikan di muka bumi, dan bila kebaikannya diterima oleh Sang Hyang Widi maka dirinya menyatu dengan alam semesta dan meninggalkan dunia yang fana untuk moksa menuju nirwana, alam semesta dan bersatu dengan dewanya untuk selamanya, itulah yang disebut dharma. Namun bila manusia Bali membuat suatu kesalahan maka ketika mati dia akan melakukan reinkarnasi untuk membersihkan dosanya kembali sampai kemudian diterima oleh Tuhannya. Inilah konsep kosmologi Bali yang juga dianut dalam arsitektur Bali yang mendasarkan arsitektur pada harmoni dan keselarasan kehidupan.  

Kosmologi Bali merupakan suatu hierarki yang membagi hubungan manusia Bali dengan alam semesta dalam urutan seperti sebagai berikut:
1. Bhur, alam semesta, tempat bersemayamnya para dewa.
2. Bwah, alam manusia dan kehidupan keseharian yang penuh dengan godaan duniawi, yang berhubungan dengan materialisme.
3. Swah, alam nista yang menjadi simbolis keberadaan setan dan nafsu yang selalu menggoda manusia untuk berbuat menyimpang dari dharma.
     Nawa Sanga adalah konsep 9 mata angin yang menjadi pedoman bagi kehidupan keseharian masyarakat Bali. Seperti halnya dengan mata angin arah utara-selatan yang disebut kaja-kelod, dan timur-barat yang disebut kangin-kauh. Hal ini sangat penting karena orientasi orang Bali terhadap Gunung Agung dan arah terbit matahari menjadi pedoman bagi perletakan pola perumahan pada umumnya. Utara melambangkan Dewa Wisnu, selatan Dewa Brahma, timur Dewa Iswara, dan barat Dewa Mahadewa.

Rumah tinggal masyarakat Bali sangat unik karena rumah tinggal tidak merupakam satu kesatuan dalam satu atap tetapi terbagi dalam beberapa ruang-ruang yang berdiri sendiri dalam pola ruang yang diatur menurut konsep arah angin dan sumbu Gunung Agung. Hal ini terjadi karena hirarki yang ada menuntut adanya perbedaan strata dalam pengaturan ruang-ruang pada rumah tinggal tersebut. Seperti halnya tempat tidur orang tua dan anak-anak harus terpisah, dan juga hubungan antara dapur dengan tempat pemujaan keluarga. Untuk memahami hierarki penataan ruang tempat tinggal di Bali ini, haruslah dipahami keberadaan sembilan mata angin yang identik dengan arah utara, selatan, timur, dan barat. Bagi mereka arah timur dengan sumbu hadap ke Gunung Agung adalah lokasi utama dalam rumah tinggal, sehingga lokasi tersebut biasa dipakai untuk meletakkan tempat pemujaan atau di Bali disebut pamerajan. Untuk mengetahui pola ruang rumah tradisional Bali maka sebaiknya kita mengenali bagian-bagian ruang pada rumah tinggal tradisional Bali.

Bagian- bagian yang menjadi hierarki masyarakat bali:

1. Angkul-angkul, yaitu entrance yang berfungsi seperti candi bentar pada pura yaitu sebagai gapura jalan masuk. Angkul-angkul biasanya terletak di kauh kelod.
2. Aling-aling, adalah bagian entrance yang berfungsi sebagai pengalih jalan masuk sehingga jalan masuk tidak lurus ke dalam melainkan menyamping. Hal ini dimaksudkan agar pandangan dari luar tidak langsung lurus ke dalam. Aling-aling terletak di kauh kelod.
3. Latar atau halaman tengah sebagai ruang luar.
4. Pamerajan, adalah tempat upacara yang dipakai untuk keluarga. Dan pada perkampungan tradisional biasanya setiap keluarga memunyai pamerajan yang letaknya di kaja kangin pada sembilan petak pola ruang.
5. Umah meten, yaitu ruang yang biasanya dipakai tidur kapala keluarga sehingga posisinya harus cukup terhormat yaitu di kaja.
6. Bale tiang, sanga biasanya digunakan sebagai ruang untuk menerima tamu yang diletakkan di lokasi kauh.
7. Bale sakepat, bale ini biasanya digunakan untuk tempat tidur anak-anak atau anggota keluarga lain yang masih junior. Bale sakepat biasanya terletak di kelod.
8. Bale bangin, biasanya dipakai untuk duduk-duduk membuat benda-benda seni atau merajut pakaian bagi anak dan suaminya. Bale dangin terletak di lokasi kangin.
9. Paon, yaitu tempat memasak bagi keluarga, posisinya berada pada kangin kelod.
10. Lumbung, sebagai tempat untuk menyimpan hasil panen, berupa padi, dan hasil kebun lainnya.

Arsitektur Tradisional Bali

Zaman prasejarah Bali merupakan awal dari sejarah masyarakat Bali, yang ditandai oleh kehidupan masyarakat pada masa itu yang belum mengenal tulisan.

     Berdasarkan bukti-bukti yang telah ditemukan hingga sekarang di Bali, kehidupan masyarakat ataupun penduduk Bali pada zaman prasejarah Bali dapat dibagi menjadi empat, yaitu masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana, masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut, masa bercocok tanam, dan masa perundagian.

Sisa-sisa dari kebudayaan paling awal diketahui dengan penelitian-penelitian yang dilakukan sejak tahun 1960 dengan ditemukannya situs-situs di desa Sambiran (Buleleng Timur), dan ditepi Timur dan Tenggara Danau Batur (Kintamani). Situs-situs yang ditemukan berupa alat-alat batu yang digolongkan ke dalam jenis kapak genggam, kapak berimbas, serut dan sebagainya. Alat-alat batu yang dijumpai di kedua daerah tersebut kini disimpan di Museum Gedung Arca di Bedahulu Gianyar.

     Kehidupan penduduk pada masa ini adalah sangat sederhana sekali karena sepenuhnya tergantung pada alam lingkungannya. Mereka hidup mengembara dari satu tempat ketempat lainnya. Daerah-daerah yang dipilihnya ialah daerah yang mengandung persediaan makanan dan air yang cukup untuk menjamin kelangsungan hidupnya. Hidup berburu dilakukan oleh kelompok kecil dan hasilnya dibagi bersama. Tugas berburu dilakukan oleh kaum laki-laki, karena pekerjaan ini memerlukan tenaga yang cukup besar untuk menghadapi segala bahaya yang mungkin terjadi. Perempuan hanya bertugas untuk menyelesaikan pekerjaan yang ringan misalnya mengumpulkan makanan dari alam sekitarnya.

     Walaupun bukti-bukti yang terdapat di Bali kurang lengkap, tetapi bukti-bukti yang ditemukan di daerah Pacitan dapat dijadikan pedoman. Para ahli memperkirakan bahwa alat-alat yang terbuat dari batu dari Pacitan yang sejaman dan mempunyai banyak persamaan dengan alat-alat batu dari Sembiran, tentunya dihasilkan oleh jenis manusia, yaitu Pithecanthropus erectus atau keturunannya.

Pada masa ini corak kehidupan yang berasal dari masa sebelumnya masih sangat berpengaruh. Hidup berburu dan mengumpulkan makanan yang terdapat di alam sekitarnya terbukti dari bentuk alatnya yang dibuat dari batu, tulang dan kulit kerang. Bukti-bukti mengenai kehidupan manusia pada masa Mesolithik berhasil ditemukan pada tahun 1961 di Gua Selonding, Pecatu (Badung). Goa ini terletak di Pegunungan gamping di semenanjung Benoa. Dalam penggalian goa Selonding, ditemukan adanya alat-alat yang terdiri dari alat serpih dan serut dari batu dan sejumlah alat-alat dari tulang. Diantara alat-alat tulang terdapat beberapa lencipan muduk yaitu sebuah alat sepanjang 5 cm yang kedua ujungnya diruncingkan.

Masa bercocok tanam tercipta melalui proses yang panjang dan tidak mungkin dipisahkan dari usaha manusia prasejarah dalam memenuhi kebutuhan hidupnya pada masa-masa sebelumnya. Masa Neolithik amat penting dalam sejarah perkembangan masyarakat dan peradaban, karena pada masa ini beberapa penemuan baru berupa penguasaan sumber-sumber alam bertambah cepat. Penghidupan mengumpulkan makanan (food gathering) berubah menjadi menghasilkan makanan (food producing).

     Sisa-sisa kehidupan dari masa bercocok tanam di Bali antara lain berupa kapak batu persegi dalam berbagai ukuran, belincung, dan panarah batang pohon. Berdasarkan teori Kern dan teori Von Heine Geldern diketahui bahwa nenek moyang Bangsa Austronesia, yang mulai datang di kepulauan kita kira-kira 2000 tahun SM ialah pada zaman Neolithik. Kebudayaan ini mempunyai dua cabang yaitu cabang kapak persegi yang penyebarannya dari dataran Asia melalui jalan barat dan peninggalannya terutama terdapat di bagian barat Indonesia dan kapak lonjong yang penyebarannya melalui jalan timur dan peninggalan-peninggalannya merata dibagian timur negara kita. Pendukung kebudayaan Neolithik (kapak persegi) adalah bangsa Austronesia dan gelombang perpindahan pertama tadi disusul dengan perpindahan pada gelombang kedua yang terjadi pada masa perunggu kira-kira 500 S.M. Perpindahan bangsa Austronesia ke Asia Tenggara khususnya dengan memakai jenis perahu cadik yang terkenal pada masa ini. Pada masa ini diduga telah tumbuh perdagangan dengan cara barter serta telah mengenal bahasa. Para ahli berpendapat bahwa bahasa Indonesia pada masa ini adalah Melayu Polinesia atau dikenal sebagai bahasa Austronesia.